Serba Serbi

Bolehkah melakukan Otopsi Mayat ?

otopsi-mayat

Pada asalnya bagi kita adalah menghormati jenazah dan memperlakukannya dengan lembut sebagaimana Rosulullah Sholallahu alaihi wa Sallam berpesan :

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

Memecahkan tulang mayat hukumnya seperti memecahkan tulangnya ketika ia masih hidup. [HR Abu Dawud, no. 3209. Hadits ini dinyatakan shahîh oleh Albani dalam kitabnya, Irwâul Ghalîl, 3/213]

Dalam riwayat Imam Ahmad terdapat sedikit perbedaan teks, yaitu: “memecahkan tulang mayat orang Mukmin hukumnya seperti memecahkan tulangnya ketika ia masih hidup”

Namun pada beberapa kondisi hal tersebut tidak bisa terlaksana karena kita harus membedah sang mayat untuk suatu keperluan yang mendesak.

Bagaimana hukumnya ?

Majelis Ulama Besar di Saudi Arabia telah melakukan pembahasan mengenai hal ini dalam muktamar mereka ke sembilan tahun 1396 H / 1976 M. Pertemuan itu melahirkan keputusan sebagai berikut.

Untuk keperluan otopsi, baik otopsi forensik maupun otopsi medis, maka Majelis Ulama Besar memutuskan, boleh membedah mayat untuk keperluan tersebut. Dengan pertimbangan, adanya maslahat yang besar dibalik otopsi ini. Karena, otopsi forensik bertujuan untuk menegakkan hukum pidana sehingga terciptanya keamanan dalam masyarakat. Sedangkan otopsi medis, bertujuan terjaganya masyarat dari penyakit mewabah.

Menurut pertimbangan majelis, kedua maslahat ini lebih besar dibandingkan dengan mafsadat membedah mayat. Jadi, bedah mayat untuk tujuan ini dibolehkan walaupun mayat tersebut adalah mayat orang muslim ataupun mayat orang kafir ma’shûm (yang dilindungi oleh hukum Islam, seperti kafir dzimmi).

Adapun jenis bedah mayat yang kedua, yaitu untuk belajar. Dalam hal ini majelis mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya:

  1. Bahwa syariat Islam datang dengan tujuan membawa maslahat serta memaksimalkannya; dan menolak mafsadat serta meminimalkannya.

2.Bedah mayat untuk belajar medis ini ada maslahat yang besar, seperti yang sudah diketahui terkait dengan kemajuan dalam ilmu medis.

3.Belum adanya hewan yang bisa menggantikan jasad manusia guna memenuhi kebutuhan pembelajaran ini.

4.Syariat Islam menghormati kemuliaan jasad muslim, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah mati. Sedangkan proses bedah mayat pasti memperlakukan jasad tidak sesuai dengan kehormatannya.

5.Tidak adanya keperluan yang mendesak untuk membedah mayat orang muslim karena memungkinkan untuk memperoleh mayat orang kafir yang tidak ma’shum.

Dengan pertimbangan di atas, maka majelis memutuskan tidak boleh membedah mayat orang Muslim ataupun orang kafir yang ma’shum untuk pembelajaran ilmu kedokteran. Yang digunakan cukuplah mayat orang kafir tidak ma’shûm, seperti kafir harbi atau orang yang murtad.

Demikianlah fatwa ulama besar Saudi Arabiyah.

Namun disini ada hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh dokter atau pelaksana bedah mayat lainnya, ialah landasan dibolehkannya membedah mayat karena faktor yang mendesak kebutuhan. Oleh karena itu, apabila suatu saat kebutuhan ini telah terpenuhi, maka kembali kepada hukum asal bahwa seluruh jasad manusia tidak boleh dipotong-potong.

Begitu pula kaidah ini seharusnya diterapkan dalam mengotopsi jenazah seorang Muslim,apabila sebab kematian dapat diketahui dengan mudah tanpa harus otopsi, atau hanya perlu pembedahan kecil, maka tidak boleh dibedah melebihi kebutuhan yang sebenarnya diperlukan sebagaimana kaidah :
الضرورة تقدر بقدرها
Perkara darurat itu dilakukan sesuai dengan kadar keperluannya.

Wallahu Ta’la a’lam Bishowab

Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah

Tinggalkan Balasan