Serba Serbi

Sebuah Renungan Untuk Ikhwah Lendah

pena-dan-lilin

💐🌷🌿🌷💐🌿💐🌷
SEBUAH RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
(Edisi 01)

📝 Beberapa waktu yang lalu, Al-Ustadz Ahmad Khadim Hafidzahulloh yang berdomisili di kota Malang, Jawa Timur, menampilkan sebuah faedah yang sangat berharga disalah satu group media sosial. Kebetulan saya bersama-sama dengan beliau dalam group tersebut. Faedah yang beliau sampaikan tersebut rupanya amat terasa menyentuh jiwa, karena kata-kata emas itu benar-benar mengalir sampai ke lubuk hati. Jazaahullohu khairan.

Nasehat seperti yang beliau salurkan ini sangatlah dibutuhkan. Sebab, hampir semua aktifitas dan kegiatan kita selama hidup didunia tidak bisa lepas dari dua kemungkinan, yaitu “terjadi” dan “tidak terjadi”. Sesuai rencana atau tidak sesuai rencana. Seperti yang diharapkan atau tidak seperti yang diharapkan.

Bukankah demikian adanya?
Nah, Al-Ustadz Ahmad Khadim Hafidzahulloh membawakan kalimat bijak milik seorang Shahabat Nabi Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam yang bernama Abdullah bin Mas’ud Radhiyallohu’anhu. Kalimat bijak tersebut berbunyi :

“Saya lebih memilih untuk menggigit bara api sampai akhirnya dingin, daripada harus mengucapkan ‘andai saja tidak terjadi seperti itu’ untuk sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahuwata’ala untuk terjadi”.

Iya memang….
Terkadang (kalau tidak boleh dikatakan sering) kita berandai-andai tentang sesuatu. Padahal, hal tersebut telah terjadi. Telah ditakdirkan dan telah ditetapkan oleh Allah Subhanahuwata’ala.
Tidak mungkin waktu diputar ulang, sehingga kita bisa merubahnya.
Bukanlah kita yang berhak mengatur, namun Dia-lah Dzat yang Maha Mengatur seluruh kejadian dialam semesta.
Barangkali, kita menilai sesuatu yang menimpa itu teramat pahit untuk dirasakan. Merugikan. Kita benar-benar menyesali keadaan. Kita dibuat bersedih karenanya. Galau dan gundah gulana. Pedih tiada terperi. Seolah-olah kehidupan kita sudah berakhir disebabkannya.

Akan tetapi, marilah kita memandang semuanya dengan kacamata husnudzan. Mengambil dan berpikir yang positif. Karena, segala sesuatu pasti ada hikmahnya.

Anda sedang dalam ikatan kerja sama bisnis dengan si A yang baru dikenal, misalnya. Konsepnya dari awal telah dirasa cukup matang. Sirkulasi kerja dari hulu ke hilir telah diprogram sedemikian rupa. Bahkan dari ruang produksi sampai distribusi dan re-produksi kembali juga telah dipikirkan. Anda berdua juga sudah menghitung baik-baik perkiraan untung dan rugi. Hasil prediksi, usaha bisnis ini akan sangat menguntungkan.
Apa posisi Anda? Anda, sebut saja sebagai pemodal. Dan modal yang telah Anda invest-kan terbilang besar. Tidak sedikit. Kemudian waktu berlalu. Setelah memetik keuntungan dan keuntungan berikutnya, yang diselingi sekali waktu dengan kerugian yang tidak begitu berarti, tiba-tiba saja si A pergi menghilang tanpa keterangan. Modal besar yang sudah Anda tanam dibawanya lari. Aset yang tersisa bila dinilai terhitung kecil, jika dibandingkan dengan modal awal yang telah dikeluarkan. Anda telah resmi tertipu!

Apa yang kemudian saat itu Anda lakukan? Bagaimana perasaan Anda?
Jika saya berada di posisi Anda, saya pasti sangat bersedih, kecewa. Saya juga akan menyesal.

Namun, saya dan Anda harus mengingat baik-baik kalimat bijak dari shahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallohu’anhu di atas.

“Saya lebih memilih untuk menggigit bara api sampai akhirnya dingin, daripada harus mengucapkan, ‘Andai saja tidak terjadi seperti itu’, untuk sesuatu yang telah ditetapkan Allah untuk terjadi”.

Sudahlah… Semua sudah terjadi. Kita tidak boleh berucap, “Andai saja dulu saya tidak langsung percaya kepada si A”. Kita pun jangan mengatakan, “Andai saja modal yang saya berikan tidak langsung sebesar itu”. Kita buang jauh-jauh kata berandai-andai. Sebab, semua sudah terjadi.

Untuk apa lagi kita berandai-andai? Mencari dimana letak kesalahannya?
Bukankah kita harus percaya bahwa semuanya terjadi hanya dengan takdir Allah?

Artinya, kita harus meyakini bahwa semua yang terjadi di atas muka bumi ini telah ditetapkan Allah. Semua telah ditulis semenjak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
Maka, secara sadar dan ridho, kita harus bisa menerimanya. Ambil sisi positifnya.
Coba kita sedikit menghitung sisi positif yang ada. Menerima takdir Allah dengan penuh ridha merupakan salah satu wujud keimanan. Dengan pengalaman pahit di atas, kita bisa berharap agar iman bertambah dan meningkat. Iman yang meningkat akan semakin meninggikan derajat seorang hamba di sisi Allah. Akankah kesempatan emas ini akan dilewatkan begitu saja dengan banyak berandai-andai?

Kejadian pahit semacam di atas, jika diterima dengan ridha dan lapang dada akan menjadi penghapus dosa dan menggugurkan kesalahan.

Nah, sudah berapa banyak dosa yang telah kita lakukan? Sudah berapa banyak kesalahan kita telah perbuat? Sudah semestinya, seorang hamba dapat berprasangka baik bahwa kejadian-kejadian seperti ini akan membersihkan dirinya dari dosa.

Apakah tidak ingin dibersihkan dari dosa? Tentu ingin sekali bukan?

👉 Teguran dari Allah agar bersikap hati-hati.

Ini adalah sisi positif yang harus kita ingat juga. Sudah seharusnya, dengan kejadian semacam di atas, kedepannya kita bisa lebih berhati-hati. Perilaku dan keputusan yang diambil harus melalui proses yang cermat dan matang. Tidak asal. Tidak sembarang bertindak. Semua harus tertata dan rapi.

Pelajaran hidup yang sangat berharga. Hilangnya yang ada di tangan. Apa yang diharapkan tidak terwujud. Sesuatu yang diinginkan untuk tidak terjadi, ternyata malah terjadi. Ini semua adalah pelajaran hidup agar kita bisa lebih merasa bahwa kita sejatinya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Sebab, kita dan yang kita punya sesungguhnya hanyalah milik Allah Ta’ala. Kita dan apa yang ada pada kita, pada akhirnya akan kembali juga kepada pemiliknya, Allah Ta’ala.

Oleh sebab itu, saat panen yang diharapkan akhirnya gagal. Barang yang dibeli ternyata rusak dan tidak lengkap. Ketinggalan kereta, bis atau pesawat. Proses menikah yang batal. Kecelakaan saat perjalanan menuju sebuah tempat. Kehilangan barang atau kecurian. Tertipu. Mengucapkan kata-kata kasar. Berbuat sesuatu yang memalukan. Saat hal-hal seperti ini terjadi, jangan lagi berandai-andai, “Misale ora ngono” , “Nek wae wingi aku ngene”.

Seorang muslim pantang berandai-andai untuk sesuatu yang sudah terjadi. Sebab, lebih baik menggigit bara api yang panas sampai akhirnya dingin, daripada berandai-andai. Cobalah ambil hikmahnya. Pelajari sisi positifnya. Semoga Allah memudahkan urusan anda.

Saudaramu fillah

Abu Nasim Mukhtar “Iben” Rifai La Firlaz

Lendah, Kulonprogo
Rabu Wage
15 Jumadil Awwal 1437 H
24 Februari 2016 M

⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️

 


💐🌷💐🌷🌴💐🌷💐🌷

 

Mengenang Sebuah Nasehat
Sesaat Menjelang Touring Peserta Kajian Islam Lendah
Tujuan Wonosobo dan Dieng
Dua bulan yang lalu….


 

🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴

BENGKELKAN HATI, SELAIN MOTORMU
(Bekal Perjalanan ke Wonosobo)

Perjalanan kita nanti terbilang panjang. Ratusan kilometer harus ditempuh. Ada banyak kemungkinan yang akan dihadapi selama perjalanan. Naik turun itu sudah pasti. Tikungan dan belokan tentunya ada yang ekstrem. Ditambah lagi cuaca dan alam yang tidak ada satu pun dari kita yang bisa memastikan. Namun, itu semua bukanlah menjadi alasan untuk membatalkan rencana yang telah digadang-gadang sejak semula.
Sebab kita yakin, Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ingatlah selalu! Untuk apa kita menempuh perjalanan ini? Kenapa kita begitu bersemangat merencanakannya? Dalam rangka apa kita rela berjauh-jauh sampai ke Wonosobo dan Dieng?

Masih ingatkah kita dengan tanggal 12 Mei 2015? Hari itu adalah hari pertama kita membaca kitab Aisar. Sebuah karya tulis di bidang tajwid dan qira’ah yang sangat mengagumkan. Kita belajar makhraj dan sifat setiap huruf hijaiyah sejak di halaman pertama. Hukum-hukum tajwid tanpa terasa kita habiskan membacanya sampai pembahasan terakhir.

Hari-hari indah pun kita lewati bersama. Kantuk dan lelah bukan lagi musuh yang menakutkan. Bahkan ia menjadi sahabat yang terkadang menemani perjalanan kita di tiap-tiap subuh sampai ke masjid Kepek, Lendah. Suara motor dan cahaya lampu selalu menembus gelapnya akhir malam. Dari utara, barat, timur dan selatan. Semuanya mengarah ke satu masjid, untuk mempelajari kitaabullah.

Lebih dari setengah tahun, subuhnya kita lalui dengan belajar kitab Aisar.
Sampai pada tanggal 09 Desember 2015.

Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan untuk kita dapat menyelesaikan kitab Aisar. Banyak benar yang merasakan manfaatnya.

Terharu dan terharu dalam bahagia. Bagaimana tidak terharu, jika lantunan ayat-ayat Al Qur’an kemudian selalu menyemarakkan masjid Kepek di setiap pagi buta. Satu sama lain saling menyimak dan mengkoreksi bacaan. Sebuah pesantren kecil telah lahir di bumi Lendah, pikir saya.

Walaupun masih harus berkembang. Meskipun mesti semakin belajar. Namun lihatlah… satu, dua dan beberapa dari teman-teman kita yang kini lancar membaca dengan alunan irama menyentuh, padahal sebelumnya ia harus terbata-bata. Ada berapa kakek tua yang sangat bersemangat bersama kita. Mbah Widi, Mbah Pomo, Mbah Suraji, Mbah Rusman, Mbah Kamiran dan Mbah Muh bukankah penuh semangat.

Sebagian anak-anak yang kita harapkan menjadi penerus generasi kita juga tak kalah semangatnya.

Setelah itu, kita ingin bertemu langsung dengan penulis dan penyusun kitab Aisar. Beliau Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnain. Ada tekad dari kita untuk sekali saja bertemu dengan seseorang yang mempunyai sanad dan mata rantai riwayat membaca Al Qur’an sampai kepada baginda Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam. Kita ingin dipertemukan dengan seorang ahli qur’an di zaman ini. Ingin sekali kita berjumpa beliau.

Inilah tujuan kita! Bertemu dengan seorang ahli qur’an yang mempunyai sanad langsung kepada baginda Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam.
Bukan semata bersenang-senang. Ini bukan hura-hura dan sekadar ingin rame-rame. Ini bukan membuang-buang waktu. Ini bukan naik motor lalu tertawa-tertawa. Di sana, saat bertemu Ustadz Fauzi, kita ingin memperoleh nasehat dan wejangan agar bagaimanakah caranya menjadi ahli Al Qur’an di akhir zaman?

Tuluskan niat!
Bersihkan tujuan!
Sucikan maksud!

Perjalanan panjang ini akan membuka watak dan karakter kita sesungguhnya. Siapakah saya dan masing-masing panjenengan. Kita akan terkuak sedikit demi sedikit dalam perjalanan nanti. Sebab, perjalanan jauh akan membuka jati diri kita.

Jangan mudah emosi!
Jangan egois dan hanya berpikir tentang diri sendiri!
Jangan grusa-grusu!
Jangan terburu-buru!
Jangan kikir dan bakhil!

Satu setengah tahun, harusnya sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kita satu, padu dan selalu. Bersatu dalam arah, melalui langkah-langkah yang padu dan sewarna, juga hidup selalu dalam kebersamaan hati.
Kita a
dalah satu tubuh, bukan lagi “seperti” satu tubuh. Menyalahkan teman dalam perjalanan nanti, sama halnya dengan menyalahkan diri sendiri. Menyakiti teman saat perjalanan nanti, sama saja dengan menyakiti diri sendiri.
Kenapa? Sebab, kita telah menjadi satu tubuh.

Perjalanan panjang nanti merupakan ujian bagi kita semua. Ujian, apakah kita telah belajar arti kebersamaan. Apakah kita telah benar-benar lepas dari sikap berpikir sendiri-sendiri. Atau telah berubah menjadi jauh lebih baik, dengan selalu memikirkan kemaslahatan dan kebaikan bersama.

Ingatlah, saudaramu adalah dirimu sendiri.
Saudaramu adalah cermin dirimu! Baik buruknya saudaramu ialah cerminan baik buruknya dirimu. Jadikan dirimu menjadi diri yang baik, supaya saudaramu pun menjadi baik pula. Jangan merendahkan saudaramu karena sisi buruknya, sebab itu juga menjadi sisi burukmu. Yang baik kita jaga, yang buruk kita tinggalkan. Yang baik kita pelihara. Yang buruk kita hilangkan dengan cara yang bijak.

Setelah membengkelkan motor kita untuk perjalanan jauh nanti, bengkelkan juga hatimu, wahai saudaraku!

Baarakallahu fiikum

Lendah, Kulonprogo
04 Januari 2016.
Petang hari 17.43 WIB.

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️⛳️
https://telegramme/kajianislamlendah